Mengapa Profesi Guru Kurang Dihargai?
M Faisal Saktian - Ada satu kalimat yang hampir selalu kita dengar ketika berbicara tentang guru: guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Kalimat itu terdengar mulia. Masalahnya, penghargaan kepada guru tidak cukup hanya dalam bentuk kata-kata.
Seorang guru bisa disebut pahlawan, tetapi tetap menghadapi beban administrasi yang berat. Bisa dianggap sebagai orang yang menentukan masa depan bangsa, tetapi kesejahteraan dan kondisi kerjanya belum tentu sebanding dengan tanggung jawab yang dipikul. Bisa diminta mendidik generasi masa depan, tetapi suara mereka dalam menentukan kebijakan pendidikan belum selalu mendapatkan tempat yang semestinya.
Di sinilah muncul pertanyaan yang tidak nyaman: mengapa profesi guru kurang dihargai?
Persoalannya bukan semata-mata tentang gaji. Penghargaan terhadap sebuah profesi jauh lebih luas daripada jumlah penghasilan. Ia mencakup status sosial, perlindungan dalam bekerja, kesempatan berkembang, kepercayaan masyarakat, beban kerja, hingga sejauh mana pendapat para profesional didengarkan.
Daftar Isi
Guru Dihormati dalam Kata-Kata, tetapi Belum Tentu dalam Praktik
Masyarakat sebenarnya menyadari bahwa guru memiliki peran penting. Hampir semua orang pernah merasakan pengaruh seorang guru dalam kehidupannya.
Namun, penghormatan simbolis tidak selalu berubah menjadi penghargaan nyata.
Kita sering meminta guru menjadi pendidik, pembimbing, pengawas, administrator, bahkan terkadang menjadi pihak yang ikut menyelesaikan persoalan sosial dan keluarga siswa. Ketika muncul persoalan di sekolah, guru sering menjadi salah satu pihak pertama yang dituntut bertanggung jawab.
Pada saat yang sama, guru juga dituntut mengikuti perubahan kurikulum, teknologi, kebutuhan siswa, dan tuntutan orang tua.
Dengan kata lain, tanggung jawab guru terus bertambah, sementara pemahaman masyarakat tentang kompleksitas pekerjaan guru belum tentu ikut berkembang.
Survei TALIS 2024 dari OECD menunjukkan bahwa beban administratif masih menjadi salah satu sumber stres penting bagi guru. Secara rata-rata di sistem pendidikan yang disurvei, sekitar separuh guru melaporkan pekerjaan administratif berlebihan sebagai sumber stres kerja.
Ini menunjukkan bahwa persoalan profesi guru bukan sekadar persoalan apakah mereka mengajar dengan baik atau tidak. Ada sistem kerja di belakang proses pembelajaran yang ikut menentukan kualitas kehidupan seorang guru.
Mengapa Gaji Sering Menjadi Ukuran Penghargaan?
Ketika membicarakan profesi guru, pembahasan mengenai gaji hampir selalu muncul.
Hal itu wajar. Guru juga memiliki kebutuhan hidup seperti profesi lainnya.
Namun, menjadikan gaji sebagai satu-satunya ukuran penghargaan juga kurang tepat.
Seorang guru membutuhkan kepastian karier, lingkungan kerja yang sehat, kesempatan meningkatkan kompetensi, perlindungan profesional, serta ruang untuk berkembang. Jika semua itu tidak tersedia, menaikkan penghasilan saja belum tentu menyelesaikan seluruh persoalan.
OECD dalam TALIS 2024 menemukan bahwa gaji memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi keputusan guru untuk bertahan dalam profesinya. Kondisi kerja, stabilitas kontrak, peluang pengembangan karier, dan berbagai bentuk kepuasan terhadap pekerjaan juga memiliki hubungan kuat dengan keinginan guru untuk tetap mengajar.
Artinya, menghargai guru harus dimulai dari cara kita memperlakukan profesi tersebut secara keseluruhan.
Guru Terlalu Sering Dipandang sebagai Pelaksana Kebijakan
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: posisi guru dalam pengambilan keputusan pendidikan.
Kebijakan pendidikan sering dirancang dari atas, kemudian diterapkan di sekolah. Guru menjadi pihak yang menjalankan perubahan tersebut di ruang kelas.
Padahal, merekalah yang berhadapan langsung dengan siswa setiap hari.
Mereka mengetahui bahwa satu kebijakan yang terlihat bagus di atas kertas belum tentu mudah diterapkan di kelas. Mereka tahu perbedaan karakter siswa, kondisi sekolah, keterbatasan fasilitas, serta persoalan yang tidak selalu terlihat dalam laporan administratif.
Karena itu, guru seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pelaksana kebijakan. Guru harus diperlakukan sebagai profesional yang memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk ikut menentukan arah kebijakan pendidikan.
TALIS 2024 juga menunjukkan pentingnya persepsi guru bahwa pandangan mereka dihargai oleh pembuat kebijakan. Guru yang merasa pandangannya dihargai oleh pembuat kebijakan cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk mempertimbangkan meninggalkan profesi tersebut.
Ini bukan persoalan kecil. Ketika guru merasa tidak didengar, yang hilang bukan hanya kepuasan kerja, tetapi juga rasa memiliki terhadap sistem pendidikan.
Masyarakat Juga Harus Mengubah Cara Memandang Guru
Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah atau sistem pendidikan.
Masyarakat juga memiliki peran dalam rendah atau tingginya penghargaan terhadap guru.
Ada kecenderungan menganggap pekerjaan guru relatif ringan karena jam kerja di sekolah terlihat terbatas. Padahal, pekerjaan guru tidak berhenti ketika bel pulang berbunyi.
Ada persiapan pembelajaran, penilaian, evaluasi, komunikasi dengan orang tua, administrasi, pelatihan, dan berbagai pekerjaan lain yang sering tidak terlihat oleh masyarakat.
Lebih buruk lagi jika guru hanya dinilai dari satu sisi: nilai siswa.
Ketika nilai bagus, keberhasilan dianggap milik sistem atau anak. Ketika nilai buruk, guru bisa menjadi pihak yang pertama disalahkan.
Padahal pendidikan merupakan proses yang jauh lebih kompleks.
Guru tidak bekerja sendirian. Keberhasilan pendidikan dipengaruhi keluarga, lingkungan sosial, kebijakan sekolah, kondisi ekonomi, fasilitas pendidikan, karakter siswa, dan banyak faktor lainnya.
Karena itu, menghargai guru berarti juga memahami kompleksitas pekerjaan mereka.
Profesi Guru Tidak Boleh Hanya Mengandalkan Pengabdian
Ada satu kesalahan cara berpikir yang perlu ditinggalkan: anggapan bahwa karena guru bekerja untuk mendidik anak bangsa, mereka harus selalu siap berkorban.
Pengabdian memang penting. Tetapi pengabdian tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kesejahteraan.
Guru adalah manusia yang memiliki keluarga, kebutuhan ekonomi, cita-cita, dan batas kemampuan.
Kita tidak boleh membangun sistem pendidikan dengan asumsi bahwa guru akan terus bertahan hanya karena panggilan hati.
Justru sistem pendidikan yang sehat adalah sistem yang mampu membuat orang tetap memiliki semangat mengajar tanpa harus mengorbankan martabat dan kesejahteraan mereka.
Ironisnya, data OECD menunjukkan bahwa sebagian besar guru tetap merasa puas dengan pekerjaannya. Dalam TALIS 2024, hampir 90 persen guru secara rata-rata menyatakan puas dengan pekerjaannya. Ini menunjukkan bahwa banyak guru masih menemukan makna dan kepuasan dalam profesinya meskipun menghadapi berbagai tekanan.
Karena itu, tugas masyarakat dan pemerintah bukan memanfaatkan dedikasi tersebut, melainkan memastikan dedikasi itu mendapatkan dukungan yang layak.
Menghargai Guru Bukan Sekadar Memberikan Penghargaan
Kita sering memberikan penghargaan kepada guru pada momentum tertentu. Ada peringatan Hari Guru. Ada seremoni. Ada ucapan terima kasih. Semua itu baik. Tetapi penghargaan yang paling penting justru terlihat dalam kebijakan sehari-hari.
- Apakah guru mendapatkan beban kerja yang masuk akal?
- Apakah mereka memiliki kesempatan untuk meningkatkan kompetensi?
- Apakah mereka mendapatkan perlindungan ketika menghadapi persoalan di sekolah?
- Apakah suara mereka didengar ketika kebijakan pendidikan dibuat?
- Apakah masyarakat mempercayai profesionalitas mereka?
Dan yang tidak kalah penting: apakah profesi guru cukup menarik bagi generasi muda yang memiliki kemampuan terbaik?
OECD mencatat bahwa persepsi terhadap status sosial profesi guru berkaitan dengan kemampuan sistem pendidikan untuk mempertahankan guru dan menarik calon guru berkualitas. Guru yang merasa profesinya dihargai masyarakat juga lebih kecil kemungkinannya untuk mempertimbangkan meninggalkan profesi tersebut.
Jadi, persoalan penghargaan terhadap guru bukan hanya persoalan perasaan. Status profesi guru berkaitan dengan keberlanjutan profesi itu sendiri.
Apa yang Harus Dilakukan?
Jika ingin profesi guru benar-benar dihargai, perubahan harus dilakukan pada beberapa sisi.
- Kesejahteraan guru harus menjadi kebijakan nyata, bukan hanya slogan.
- Beban administratif yang tidak perlu harus dikurangi agar energi guru kembali berpusat pada pembelajaran.
- Guru harus diberikan ruang profesional untuk menyampaikan pandangan dan terlibat dalam pengembangan kebijakan pendidikan.
- Masyarakat perlu membangun kembali kepercayaan terhadap guru tanpa berarti menutup mata terhadap kesalahan yang dilakukan oleh oknum guru.
- Pengembangan karier guru harus diperkuat sehingga menjadi guru bukan berarti berhenti berkembang setelah bertahun-tahun mengajar.
Dan terakhir, kita perlu mengubah cara berpikir bahwa profesi guru adalah pekerjaan yang harus dijalani dengan pengorbanan tanpa batas.
Guru boleh memiliki panggilan pengabdian. Tetapi negara dan masyarakat tetap memiliki kewajiban untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan mereka menjalankan panggilan itu dengan layak.
Guru Tidak Butuh Dikagumi, Mereka Butuh Dihargai
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan bahwa profesi guru sama sekali tidak dihargai.
Guru justru sering mendapatkan penghormatan secara simbolis.
Masalahnya adalah jarak antara penghormatan dalam ucapan dan penghargaan dalam kenyataan.
Kita mengatakan guru menentukan masa depan bangsa. Maka sudah seharusnya guru memiliki kondisi kerja yang memungkinkan mereka benar-benar menjalankan peran tersebut.
Kita mengatakan pendidikan adalah investasi masa depan. Maka guru yang menjadi salah satu aktor terpenting dalam pendidikan tidak boleh diperlakukan sebagai sekadar pelaksana teknis.
Dan kita mengatakan guru adalah profesi mulia. Maka kemuliaan itu seharusnya tidak berhenti dalam kalimat ucapan.
Guru tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang betapa mulianya pekerjaan mereka. Guru membutuhkan sistem yang memperlakukan mereka sebagai profesional yang penting, kompeten, dan layak dihargai.
Sebab, pada akhirnya, cara sebuah bangsa memperlakukan gurunya adalah salah satu cermin dari seberapa serius bangsa tersebut memandang masa depannya.

Posting Komentar untuk "Mengapa Profesi Guru Kurang Dihargai?"