Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendidikan Berkualitas Masih Menjadi Barang Mahal

Pendidikan Berkualitas Masih Menjadi Barang Mahal

M Faisal Saktian - Pendidikan sering disebut sebagai jalan paling penting untuk mengubah kehidupan. Dengan pendidikan, seseorang diharapkan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memperbaiki masa depan, memperoleh pekerjaan yang layak, dan keluar dari lingkaran kemiskinan. Namun, ada pertanyaan yang semakin sulit dihindari: apakah kesempatan mendapatkan pendidikan berkualitas benar-benar tersedia untuk semua orang?

Secara formal, sekolah memang semakin mudah ditemukan. Anak-anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan dan pemerintah terus menjalankan berbagai program untuk memperluas akses pendidikan. Tetapi akses terhadap sekolah tidak otomatis berarti akses terhadap pendidikan yang berkualitas.

Di sinilah persoalannya. Pendidikan berkualitas masih sering terasa seperti sesuatu yang mahal.

Daftar Isi

Sekolah Ada, Tetapi Kualitas Belum Tentu Sama

Masalah pendidikan tidak hanya berkaitan dengan apakah seorang anak bisa bersekolah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: pendidikan seperti apa yang mereka terima?

Seorang anak yang belajar di sekolah dengan fasilitas lengkap, guru yang cukup, akses internet, perpustakaan yang baik, dan lingkungan belajar yang mendukung tentu memiliki pengalaman berbeda dengan anak yang belajar di sekolah dengan keterbatasan fasilitas.

Keduanya mungkin sama-sama memakai seragam dan duduk di ruang kelas selama berjam-jam. Namun, kesempatan belajar yang mereka dapatkan belum tentu setara.

Ketimpangan inilah yang sering tidak terlihat ketika keberhasilan pendidikan hanya diukur dari angka partisipasi sekolah.

Ketika Uang Menentukan Pilihan Pendidikan

Bagi keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik, pilihan pendidikan biasanya lebih luas.

Mereka dapat memilih sekolah yang dianggap lebih baik, membayar les tambahan, membeli buku, menyediakan perangkat digital, mengikuti kursus, atau memberikan anak kesempatan mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri.

Sementara itu, keluarga dengan keterbatasan ekonomi sering kali harus membuat pilihan yang jauh lebih berat.

Membeli laptop untuk belajar bisa berarti mengurangi anggaran kebutuhan lain. Membayar bimbingan belajar mungkin bukan pilihan ketika pendapatan keluarga hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan biaya transportasi dan perlengkapan sekolah dapat menjadi beban tersendiri.

Dalam kondisi seperti ini, pendidikan akhirnya tidak lagi hanya soal kemampuan anak untuk belajar. Kemampuan ekonomi keluarga ikut menentukan seberapa besar kesempatan anak untuk berkembang.

Pendidikan Tambahan Semakin Menjadi Pembeda

Persaingan pendidikan juga tidak berhenti di ruang kelas.

Anak yang memperoleh pembelajaran tambahan di luar sekolah memiliki kesempatan untuk memperdalam materi, berlatih menghadapi ujian, belajar bahasa asing, mengembangkan keterampilan digital, atau mengikuti kegiatan yang memperluas pengalaman.

Masalahnya, tidak semua anak mempunyai akses yang sama.

Di sinilah pendidikan tambahan dapat berubah menjadi faktor pembeda yang sangat besar. Anak yang sudah mendapatkan fasilitas lebih baik dapat terus meningkatkan kemampuannya, sedangkan anak yang hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah harus berjuang dengan sumber daya yang lebih terbatas.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, kesenjangan pendidikan berpotensi ikut memperlebar kesenjangan sosial.

Yang Mahal Bukan Hanya Sekolah

Kita sering membicarakan biaya sekolah ketika membahas mahalnya pendidikan. Padahal, biaya pendidikan jauh lebih luas daripada uang yang dibayarkan kepada sekolah.

Ada biaya buku, seragam, transportasi, perangkat elektronik, koneksi internet, kursus, kegiatan tambahan, hingga waktu orang tua untuk mendampingi anak belajar.

Bahkan lingkungan tempat tinggal juga ikut menentukan.

Anak yang tumbuh di lingkungan dengan akses buku, internet, ruang belajar yang nyaman, dan orang tua yang memiliki waktu serta pengetahuan untuk mendampingi belajar memiliki modal pendidikan yang berbeda dengan anak yang tumbuh dalam kondisi sebaliknya.

Karena itu, membicarakan pendidikan berkualitas tanpa membicarakan kondisi sosial dan ekonomi keluarga adalah persoalan yang tidak lengkap.

Jangan Sampai Pendidikan Menjadi Mesin Pewarisan Ketimpangan

Pendidikan seharusnya menjadi alat untuk memutus rantai ketimpangan. Namun, jika kualitas pendidikan sangat bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga, fungsi tersebut dapat berjalan sebaliknya.

Anak dari keluarga berada mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi. Anak dari keluarga miskin harus bekerja lebih keras hanya untuk memperoleh kesempatan yang sama.

Ini bukan berarti sekolah swasta, les, atau fasilitas tambahan adalah sesuatu yang salah. Persoalannya muncul ketika akses terhadap berbagai fasilitas tersebut menjadi penentu utama siapa yang mendapatkan pendidikan terbaik.

Jika pendidikan hanya memberikan hasil terbaik kepada mereka yang mampu membayar lebih banyak, maka kita perlu bertanya kembali: sejauh mana pendidikan benar-benar menjadi hak semua orang?

Pemerintah Tidak Cukup Hanya Memperluas Akses

Pemerintah tentu memiliki peran penting dalam memastikan pendidikan dapat dijangkau masyarakat. Namun, membangun sekolah dan memastikan anak masuk sekolah hanyalah bagian dari pekerjaan.

Yang juga harus diperhatikan adalah kualitas guru, distribusi tenaga pendidik, fasilitas belajar, teknologi pendidikan, kualitas kurikulum, serta kondisi sosial ekonomi peserta didik.

Sekolah di daerah tertinggal tidak bisa diperlakukan seolah-olah memiliki persoalan yang sama dengan sekolah di pusat kota.

Kebijakan pendidikan harus melihat ketimpangan tersebut secara serius. Kesetaraan bukan berarti semua sekolah mendapatkan perlakuan yang persis sama. Kesetaraan berarti setiap anak mendapatkan dukungan yang dibutuhkan agar memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang.

Pendidikan Berkualitas Harus Menjadi Hak, Bukan Kemewahan

Pendidikan berkualitas memang membutuhkan biaya. Guru harus mendapatkan penghargaan yang layak. Sekolah membutuhkan fasilitas. Teknologi membutuhkan investasi. Semua itu tidak mungkin diperoleh tanpa sumber daya.

Namun, persoalannya adalah siapa yang menanggung biaya tersebut dan siapa yang akhirnya menikmati kualitasnya.

Jika kualitas terbaik hanya dapat dinikmati oleh kelompok yang memiliki kemampuan ekonomi lebih tinggi, pendidikan akan semakin sulit menjadi alat pemerataan.

Kita membutuhkan sistem yang membuat kualitas pendidikan tidak terlalu bergantung pada isi dompet orang tua.

Sekolah publik harus diperkuat. Guru harus didukung. Fasilitas harus diperbaiki secara merata. Anak dari keluarga kurang mampu harus mendapatkan dukungan yang bukan sekadar membuat mereka bisa bersekolah, tetapi juga memungkinkan mereka belajar dengan baik.

Penutup

Setiap anak memiliki potensi, tetapi potensi tidak tumbuh dalam ruang kosong. Ia membutuhkan guru yang baik, lingkungan yang mendukung, fasilitas belajar, kesempatan mencoba, dan keluarga yang mampu memberikan dukungan.

Jika semua itu semakin mudah diperoleh oleh mereka yang memiliki uang, maka pendidikan akan kehilangan salah satu fungsi terpentingnya sebagai jalan menuju mobilitas sosial.

Pendidikan berkualitas tidak seharusnya menjadi hadiah bagi keluarga yang mampu membayar lebih mahal.

Sebab pada akhirnya, masa depan seorang anak seharusnya lebih banyak ditentukan oleh kemampuan, kerja keras, dan kesempatan yang adil bukan oleh seberapa tebal dompet orang tuanya.
M. Faisal Saktian
M. Faisal Saktian Magister Pendidikan Dasar

Posting Komentar untuk "Pendidikan Berkualitas Masih Menjadi Barang Mahal"